Dead Cells

Seiring perkembangan zaman, genre rogue-like mengalami evolusi yang signifikan. Banyak developer yang berusaha menggunakan genre ini dan menambahkan sentuhan mereka sendiri. Ada yang memadukannya dengan gameplay kartu, ada yang memasukkan elemen musik ala rhythm game, lalu ada juga yang membuat sistem perma-death di genre ini lebih ringan yang akhirnya melahirkan sub-genre roguelite.

Developer yang membuat game roguelite juga banyak. Tapi salah satu yang terbilang sukses adalah Dead Cells yang rilis tahun 2017 lalu.

Dead Cells

Gabungan Berbagai Genre?

Dead Cells diperkenalkan sebagai game roguelite dan action platformer yang terinspirasi dari metroidvania. Bagian metroidvania yang terakhir mungkin jadi satu-satunya hal yang disayangkan dari “perkenalan” game ini. Karena sepanjang permainan, elemen Dead Cells lebih menekankan elemen roguelite dan action platforming dan hampir tidak punya elemen metroidvania.

Kamu akan memulai permainan dengan satu senjata kemudian menelusuri terowongan dan pintu yang ada. Setiap sudut ruangan dan lorong akan diisi oleh musuh yang memiliki serangan uniknya sendiri. Gunakan senjatamu untuk membasmi musuh tersebut, lalu gunakan dodge roll untuk menghindar. Musuh dalam game ini tidak kenal ampun dan beberapa di antaranya bahkan bisa membuatmu sekarat hanya dengan dua pukulan. Karena itu kamu harus bisa mengenali sinyal serangan masing-masing musuh dan/atau membasmi mereka dengan cepat.

Sepanjang perjalanan kamu akan menemui senjata dan alat yang membantumu sepanjang perjalanan. Kamu bisa membawa maksimal dua senjata dan dua utility seperti granat. Satu level atau area akan berakhir jika kamu menemukan pintu keluar dan pindah ke area berikutnya. Masing-masing area akan punya gaya visual, gimmick/hazard, dan jenis musuh yang berbeda, dan beberapa area tertentu hanya akan diisi bos.

Dari ketiga elemen gameplay yang dikemukakan, Dead Cells paling mencolok di sektor roguelite-nya. Game ini punya segudang senjata yang bisa kamu temukan di tengah perjalanan. Lokasi dan jenis senjata yang kamu temukan akan acak dan beragam mulai dari parang yang cepat, palu yang sangat lambat tapi kuat, hingga turret yang bisa kamu pasang untuk menembak musuh secara otomatis.

Sepanjang perjalanan kamu juga akan mendapatkan power-up di mana kamu harus memilih satu dari tiga warna, masing-masing akan memberikan bonus atribut yang berbeda. Menariknya adalah senjata yang kamu bawa juga punya satu dari tiga warna tersebut dan menjadi semakin kuat jika kamu mengambil power-up dengan warna yang sama. Ini membuatmu harus berpikir matang ketika menentukan senjata yang kamu bawa karena pilihan senjatamu akan mempengaruhi value power-up yang kamu ambil.

Keputusan menentukan “build” karaktermu untuk satu run tidak berhenti ketika kamu berpetualang saja. Sebelum masuk ke level berikutnya, kamu akan selalu masuk ke area di mana kamu bisa melakukan heal, mengisi ulang potion, membeli senjata baru jika ingin, dan yang paling penting memodifikasi senjatamu. Modifikasi yang kamu dapatkan bersifat acak dan efeknya beragam.

Efek yang kamu dapatkan akan mempengaruhi kekuatan persenjataanmu secara keseluruhan. Misalnya kamu mendapatkan senjata yang menembakkan shockwave beku dan bomb beku. Lalu senjata utamamu adalah pedang sebuah pedang. Nah, pedang ini akan sangat bersinergi dengan bom dan shockwave-mu jika kamu mendapatkan modifikasi yang meningkatkan damage ke musuh yang membeku.

Build yang Berbeda Di Setiap Run

Mekanisme pickup dan modifikasi senjata yang random serta sistem upgrade/power-up karakter yang terikat pada senjata ini sangat cocok dengan elemen roguelite yang jadi pusat gameplay Dead Cells. Setiap run yang kamu jalani tidak hanya menantang kemampuanmu dalam platforming dan menghadapi musuh, tapi juga beradaptasi memanfaatkan apa yang kamu dapatkan sepanjang perjalanan.

Kamu mungkin punya preferensi senjata dan gaya bermain yang kamu sukai. Tapi tidak ada jaminan kamu akan mendapatkan set senjata yang kamu sukai di satu run. Artinya kamu harus beradaptasi dan memaksimalkan apa yang kamu dapatkan ketimbang memaksakan apa yang kamu suka. Kemampuan adaptasi ini akan terasa signifikan seiring progres permainan. Musuh di level-level lanjutan akan sangat sulit dihadapi dan harus dibasmi dengan cepat. Memaksakan build yang kamu suka akan membuatmu sangat kesulitan menghadapi musuh yang tidak kenal ampun.

Sebaliknya, buat kamu yang suka bereksperimen, sistem roguelite di game ini justru membuat permainan semakin menarik karena di setiap run kamu bisa bereksperimen dengan build yang berbeda.

Misal kamu mungkin awalnya bermain dengan set senjata yang memanfaatkan efek beku. Tapi di run berikutnya kamu mungkin mendapatkan senjata yang sangat efektif dengan efek burn, jadi kamu mencari efek oil yang memuat efek burn dari senjatamu makin kuat. Kemudian di run berikutnya kamu lebih memilih set senjata berat yang damage-nya sangat besar karena kamu mendapatkan palu yang sangat kuat sebagai senjata utamamu.

Pada akhirnya, meskipun melabel diri sebagai paduan roguelite, action platformer, dan metroidvania, Dead Cells pada akhirnya hanya menyajikan pengalaman roguelite dan action platformer saja. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa game ini menawarkan pengalaman yang seru di kedua elemen tersebut.

Jika kamu mencari game roguelike/roguelite dengan action dua dimensi yang sangat rusuh dan menantang skill pemainnya memaksamu beradaptasi dengan senjata dan item yang kamu dapatkan, Dead Cells adalah salah satu game yang cocok untukmu. Musuh dan level di game ini tidak kenal ampun dan senjata yang kamu dapatkan bisa sangat berbeda dari satu run ke run berikutnya.

Leave a Reply